RSS Feed

Selasa, 03 November 2009

Ku Ingin Selamanya

Cinta adalah misteri dalam hidupku
Yang tak pernah ku tahu akhirnya
Namun tak seperti cintaku pada dirimu
Yang harus tergenapi dalam kisah hidupku

Ku ingin slamanya mencintai dirimu
Sampai saat ku akan menutup mata dan hidupku
Ku ingin slamanya ada di sampingmu
Menyayangi dirimu sampai waktu kan memanggilku

Ku berharap abadi dalam hidupku
Mencintamu bahagia untukku
Karena kasihku hanya untuk dirimu
Selamanya kan tetap milikmu

Di relung sukmaku
Ku labuhkan s'luruh cintaku
Di hembus nafasku
Ku abadikan s'luruh kasih dan sayangku

Jumat, 30 Oktober 2009

Dapatkah Aku Belayar Mencari Penawar Sepi










Hati ku terluka kerinduan…
Mencari wajah disebalik mata…
Hati ku kusut kesepian…
Tanpa cinta dari Dia…

Dapatkah aku merindui Mu…
Dalam takbir Al-Quran…
Dapatkah aku mencintai Mu…

Dalam tirai perjalanan…
Telah ku teroka segala Rahsia…
Walau mendung menunjuk hampa…
Telah ku menoktahkan dalam lena…
Walau mentari muncul bahagia…

Dapatkah aku memburu Mu…
Dalam segala kepahitan mengundang…
Dapatkah aku melihat Mu…
Dalam segala kekusutan mendatang…

Ke mana harus ku tuju…
Segala rindu mencengkam jiwa…
Ke mana harus ku mengadu…
Segala cinta didalam jiwa…

Dapatkah aku memeluk Mu…
Dalam lena tidur ku…
Dapatkah aku sembah Mu…
Dalam sujud diatas sejadah ku…

Dimana kewujudan diri Mu…
Tunjukkan kepada hamba Mu ini…
Dimana tempat tepat Mu…

Akan ku cari wajah Mu…
Walaupun ku mati dalam penglihatan ini…
Kerana diriMu…
Aku belayar mencari penawar sepi…


Nukilan:
Dhamah Syifflah

Kamis, 29 Oktober 2009

Hampir 29 Tahun…


 Ya, kurang lebih 29 tahun kebersamaan aku dengan Bambang. Kami berteman sejak berumur belum satu tahun dan saat aku masih dikandungan Ibu…hehehe. Memang pada awalnya karena orang tua aku dengan keluarga Bambang hidup bertetangga, kami tumbuh dari ekonomi dan latar belakang keluarga yang biasa-biasa saja. Tinggal di kontrakan yang agak sedikit kumuh namun warganya amat bersahabat dan kekeluargaan, maklum karena mayoritasnya adalah pendatang (perantau).

    Ada kejadian yang sampai saat ini tidak dapat aku lupakan, kira-kira saat itu usia aku 3 tahun. Dimana ayahku sedang sibuk bersama tukang-tukang membangun rumah baru yang bakal menjadi kediaman baru kami sekeluarga. Gimana layaknya anak kecil seusia itu, aku dan Bambang asik bermain lempar batu (istilahnya dulu main jauh-jauhan melempar batu). Kami sambil tertawa melihat siapa yang paling jauh melempar, memang didepan kami ada sebuah kubangan got yang agak dalam dari situlah kejadian itu bermulai. Entah terpeleset atau memang akunya ga bisa diam, akhirnya aku terjatuh kedalam kubangan got tersebut. Sontak Bambang terkejut dan dia berteriak ke ayahku, dia bilang aku tercebur ke dalamg got. Tanpa pikir lama ayahku masuk kedalam got itu, saat ia turun kubangan itu dalamnya kurang lebih sedada ayahku. Bayangkan, gimana ga dalem untuk ukuran anak 3 tahun seperti aku.

    Alhamdulillah ternyata Allah masih sayang sama aku dan berkat bantuan Bambang juga aku akhirnya selamat walau pakian aku berlumuran lumpur. Dengan mata yang berlinang karena kaget dan takut, aku pulang bersama ayah dan Bambang. Saat aku sudah duduk dibangku SD, aku sudah tidak tinggal di kontrakan lagi, alhamdulillah rumah yang ayah bangun sudah bisa ditempati walau lantainya masih tanah. Namun masih patut disyukuri karena sudah tidak ngontrak lagi, mengingat pekerjaan ayah hanya seorang tukang jahit yang warung kiosnya juga ngontrak. Entah disengaja atau memang berjodoh, aku dan Bambang kembali menjadi tetangga karena orang tua Bambang membangun rumahnya pas disamping rumah aku. Maka makin dekatlah keluarga aku dengan keluarga Bambang.

Saat aku dan Bambang sudah masuk kelas 1 SD. Kami sama-sama diantar ke sekolah oleh Ibu masing-masing dan aku terbilang anak yang cengeng saat pertama masuk sekolah dulu hehehe. Aku masih ingat wangi penghapus saat masuk SD dulu, ya, wangi karet seperti permen. Jarak sekolah dari tempat aku tinggal memang tidak terlalu jauh, hanya sekali naek mobil angkutan umum dan aku masih ingat harga ongkosnya Rp. 50,- dan aku biasa berangkat dan pulang bareng Bambang. Sepulang sekolah dulu, kami punya kebiasan cari kendaraan yang tidak ada kernetnya karena bisa bayar Rp. 50,- untuk berdua hehehe. (Bersambung)

Kamis, 17 September 2009

Segelas Es Teh Manis

Matahari siang ini memang tidak terasa terik bahkan di sebagian tempat nampak mendung, tapi entah mengapa udara yang terasa amatlah panas. Aku masih melaju sepeda motor dengan cepat mengingat waktu sudah agak siang, ditambah udara yang agak membuat tubuh sedikit berkeringat. Sesampai di tempat tujuan terlihat orang-orang yang berlalu lalang dengan kesibukanya masing-masing, memang ini hari ini adalah hari terakhir masuk kerja karena esok sudah masuk libur hari raya. Aku urus semua adminitrasi dan masuk dalam antrian, agar lekas selesai lalu bisa kembali bekerja.

Waktu menunjukan pukul 11:00 WIB udara semakin panas namun langit masih terlihat mendung tapi ada yang menarik disini, aku lihat jalan raya saat ini agak tidak terlalu padat seperti biasanya. Mungkin saat ini sebagian orang sudah pulang kampung maklum hari raya sudah tinggal dalam hitungan hari, biasanya aku tempuh sampai satu jam kini bisa ditempuh hanya 45 menit. Kadang aku berandai-andai bila Jakarta setiap hari ini mungkin para pekerja yang berangkat kerja tidak akan nampak tergesa-gesa dalam mengejar waktunya.

Dengan sedikit santai aku lajukan sepeda motor walau panas dari udara yang ada masih terasa, sehingga baju yang aku kenakan agak sedikit basah karena keringat yang mengucur. Tepat pukul 12:05 WIB aku tiba dikantor lalu aku bergegas menujua ruangan dengan peluh dibadan dan memang sedikit lelah, aku bingung matahari tidak telalu terik tapi kenapa udaranya terasa agak sedikit panas. Setibanya dimeja aku langsung melepaskan penat dengan bercengkrama dengan teman-teman kantor, ternyata dengan senyum mereka saat aku tiba dapat menghilangkan sedikit penat.

Kini aku merasakan dehidrasi yang membuat tenggorokan kering bahkan air ludah pun agak susah untuk ditelan, sehingga aku terbesit dihati alangkah nikmatnya saat tiba dimeja kantor sudah tersedia segelas es teh manis. Astagfirullah aku tidak boleh begitu karena saat ini bulan Puasa dan aku sendiri sedang berpuasa, aku tersenyum lalu menghilangkan pikiran yang dapat merusak ibadah puasa ini. Karena kurang lebih 2-3 hari lagi aku akan berjumpa dengan hari kemenangan bagi setiap yang menjalankan ibadah puasa, sedangkan segelas teh manis tetap akan dapat aku jumpai saat berbuka puasa nanti sore.


Ramadhan, 27 1430 H

Rabu, 16 September 2009

Antara Subuh , bulan sabit dan Ramadhan


Semilir angin berhembus menembus setiap apa yang dilaluinya, dari dinding-dinding rumah sampai setiap daun telinga umat manusia. Angin itu mengantarkan suara adzan yang berkumandang diwaktu subuh, aku masih asik duduk bersila diatas sadjah yang agak sedikit lusuh. Tak lama aku berdiri lalu aku bergegas keluar rumah, angin yang sejuk menggetarkan setiap kulit ku dingin namun menyegarkan. Nampak segelintir orang yang mengenakan mukena, sarung dan koko sepertinya mereka juga akan sama pergi menuju dimana suara adzan itu memanggil. Ya, sebuah mushola kecil yang terletak ditengah-tengah perkampungan.


Aku buka pintu mushola secara perlahan dan terlihat beberapa jemaah sholat subuh sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, dari solat Sunnah sampai dzikir sambil menunggu Imam Mushola datang. Aku beridiri untuk mengerjakan sholat Sunnah Fajar, tak lama berselang qomat pun di kumandangnkan. Barisan shaf pun mulai dirapikan untuk mengerjakan sholat berjamaah, sang Imam yang sudah terlihat renta mulai mengakat tangan sambil bertakbir kemudian terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang menggetarkan hati.


Lepas solat semua masih sibuk dengan doa dan dizkir, aku masih tenggelam dengan lantunan dzikir dan doa agar hari ini sampai malamnya mendapat keberkahan, setelah itu aku bergegas pulang. Diluar masih nampak gelap dan dingin pun masih menyelimuti, aku berjalan sambil memandang langit terlihat bulan sabit dikelilingi taburan bintang yang bersinar. Aku jadi teringat saat bulan sabit ini datang dimana awal datang Ramadhan mempunyai bentuk yang sama, namun memiliki waktu yang berbeda.


Seiring kembalinya bulan sabit seperti awalnya menandakan akan berakhirnya juga Ramadhan ini, ada rasa kesedihan namun ada juga rasa gembira. Kesedihan akan perpisahan dengan bulan mulia ini dan gembira akan menyambut hari kemenangan, kupandang bulan sabit sambil hati ini bertasbih kepada-Nya.






Ramadhan, 29 1430 H

Jumat, 22 Mei 2009

Jika Kau Sayang Padaku


Jika kau sayang padaku
teruslah sayang padaku
tapi aku tak bisa memaksamu
karena itu cintamu
aku hanya bisa menerima
dan hidup di dalamnya
penuh bahagia

Jika kau benci padaku
bertanyalah pada dirimu
apamu yang terganggu
dengan adanya aku
dari situ kita berdua belajar
siapa kau
dan siapa aku

Jika kau sama denganku
jangan sesali kepergianku
karena kehilangan yg terbesar bukanlah
kematianku
tetapi apa yang mati di antara kita
ketika aku masih ada

Dan jika cinta memang ada di antara kita
aku tak akan pergi jauh darimu
hidup terus dihatimu
menghangatkanmu dalam kedinginan
menenangkanmu dalam kemarahan
membawa senyum dalam saat-saat sepi,
aku tidak tidur
aku tidak mati
akulah kekuatan bagimu
selalu ada




Jumat, 27 Februari 2009

Di Balik Jeruji besi

"Nal, emak pergi kepasar dulu ya, nanti kalau airnya sudah mendidih tolong matiin kompornya. sekalian juga masukin air panasnya ketermos," itulah ibuku yang memulai hari-harinya pergi kepasar untuk membeli bahan-bahan makanan yang akan Ibu jual di warung makan depan rumah. memang bukan rumah makan mewah, namun dengan rumah makan tersebut dapat menjadikan aku seorang guru di salah satu sekolah dimana aku tinggal.

"Pak, belum berangkat kerja?" ujar aku kepada Bapak yang sedang asyik menonton televis sambil ditemani secangkir teh hangat dan 3 potong pisang goreng. belum nal, lagi seru nih beritanya. kamu sudah sarapan nal? tadi emak kamu sudah bikin nasi goreng sebelum berangkat ke pasar.

Senin, 17 November 2008

Setitis Airmata Dan Seulas Senyuman


Takkan kutukar dukacita hatiku demi kebahagiaan khalayak. Dan, takkan kutumpahkan air mata kesedihan yang mengalir dari tiap bahagian diriku berubah menjadi gelak tawa. Kuingin diriku tetaplah setitis air mata dan seulas senyuman.

Setitis airmata yang menyucikan hatiku dan memberiku pemahaman rahsia kehidupan dan hal ehwal yang tersembunyi. Seulas senyuman menarikku dekat kepada putera kesayanganku dan menjelma sebuah lambang pemujaan kepada tuhan.

Setitis airmata meyatukanku dengan mereka yang patah hati; Seulas senyum menjadi sebuah tanda kebahagiaanku dalam kewujudan.

Aku merasa lebih baik jika aku mati dalam hasrat dan kerinduan berbanding jika aku hidup menjemukan dan putus asa.

Aku bersedia kelaparan demi cinta dan keindahan yang ada di dasar jiwaku setelah kusaksikan mereka yang dimanjakan amat menyusahkan orang. Telah kudengar keluhan mereka dalam hasrat kerinduan dan itu lebih manis daripada melodi yang termanis.

Ketika malam tiba bunga menguncupkan kelopak dan tidur, memeluk kerinduannya. tatkala pagi menghampiri, ia membuka bibirnya demi menyambut ciuman matahari.

Kehidupan sekuntum bunga sama dengan kerinduan dan pengabulan. Setitis airmata dan seulas senyuman.

Air laut menjadi wap dan naik menjelma menjadi segumpal mega. Awan terapung di atas pergunungan dan lembah ngarai hingga berjumpa angin sepoi bahasa, jatuh bercucuran ke padang-padang lalu bergabung bersama aliran sungai dan kembali ke laut, rumahnya.

Kehidupan awan-gemawan itu adalah sesuatu perpisahan dan pertemuan. Bagai setitis airmata seulas senyuman. Dan, kemudian jiwa jadi terpisahkan dari jiwa yang lebih besar, bergerak di dunia zat melintas bagai segumpal mega diatas pergunungan dukacita dan dataran kebahagiaan.

Menuju samudera cinta dan keindahan - kepada Tuhan.

Khalil Gibran

Kamis, 13 November 2008

Adikku yang tertidur

Adikku yang tertidur
dalam hangatnya selimut
ia masih terdiam dalam kehangatan itu

namun tak terasa air mata ini menetes
disela-sela janggutku..

Ya Allah, cukuplah aku yang merasa
tak perlu ia..

tubuhnya yang mungil,
harus menahan pahitnya kehidupan
manjanya yang menghilangkan kedukaan

kau yang memberi bara semangat
kala aku tenggelam dalam lara,

Adikku..
tersenyumlah,esok kita hadapi bersama

13 Nopember 2008

Daun-daun Pagi Menyambut mentari

Daun-daun Pagi Menyambut mentari,
bersama kupu-kupu itu aku menikmati rasanya
menyentuh kulit

semilir angin membawa kabar baik
membuat senyum diwajah murung.
apakah yang diutarakan itu bisa dirasa
tapi kenapa diam?

aku akan menunggu,
sampai kapanpun....
karena hatiku menanti jawaban itu..!

13 Nopember 2008

Syair Nasihat Kepada Perempuan

November 6, 2008

Demikian wahai lagi perempuan,
Taatlah kepada suamimu tuan,
Jangan menderhaka jangan melawan,
Jadukan dirimu bersifat setiawan.

Jangan sekali berniat khianat,
Apalagi kurang amanat,
Pekerjaan wajin bukannya sunat,
Jika dilawan mendapat laknat.

Pertama di dunia mendapat malu,
Di dalam akhirat tubuh terpalu,
Masyhur khabar ke hilir ke hulu,
Sebab perangai tidak bermalu.

Sangatlah murka Rabbulizzati,
Perintah suami tidak dituruti,
Hendaklah taat bersungguh hati,
Kepada suamimu berbuat bakti.

Jangan takburkan rupamu elok,
Melebihi kebanyakan makhluk,
Menyangka dirimu tiada tertolok,
Jadilah suamimu diperolok-olok.

Jangan sekali takburkan bangsa,
Martabat tinggi di negeri dan desa,
Memandang suamimu seperti rusa,
Sombonglah tuan tutur bahasa.

Tiada menurut apa perintahnya,
Perkataan kasar selalu keluarnya,
Muka dimasamkan di hadapannya,
Jadilah suami pecah hatinya.

Jika diperbuat demikian itu,
Nyatalah kamu syaitan dan hantu,
Hargamu tiada serial batu,
Tiadalah harus dibuat menantu.

Dukalah tuan sehari-hari,
Suami pun benci tiada terperi,
Jika suamimu bijak bestari,
Duduklah dia mendiamkan diri.

Tetapi hatinya rosaklah sudah,
Kerana perbuatanmu yang haram jadah,
Jadilah suamimu berhati gundah,
Tiadalah kamu mendapat faedah.

Hanyalah dari balasan ngeri,
Dimurkai Tuhan waidul kahri,
Mendapat sengsara di dua negeri,
Celaka bertambah sehari-hari.

Sering kali aku berkata

Sering kali aku berkata,

ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi,

mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan
milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika semua itu diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah …
semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah …
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:

aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai
keinginanku,

Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja”

(WS Rendra).

Senin, 10 November 2008

KITA HANYA MUSAFIR LEWAT



Oleh: Ustad. Anwar Anshori Mahdum

"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu,

kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali,

kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan”

(Qs. Al-Baqarah [2] : 28)

Ketahuilah sahabat, bahwa kehidupan dunia ini hanyalah persinggahan sebentar dalam perjalanan panjang menuju keabadian. Kita hanyalah musafir yang sedang menempuh perjalanan menuju negeri yang pasti dan abadi. Rasulullah berpesan kepada kita : “Jadilah dirimu di dunia ini seperti orang-orang asing atau seorang musafir ! “ (HR. Ahmad, Buchari, At-tarmidzi dan Ibnu Hibban). Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menasehati kita lewat bukunya “Al-Waqti Fi Hayati Muslim” (waktu dalam kehidupan muslim) Sesungguhnya berlalunya masa dan berputarnya siang dan malam bagi sorang: muslim tidak boleh dibiarkan tanpa mengambil pelajaran dirinya. Paling tidak, ia memikirkan kalau memang belum dapat mengambil pelajaran darinya. Sadarilah bahwa setiap waktu berjalan terjadi seribu satu macam kejadian, dari yang dapat kita indra sampai yang tidak dapat kita indra.

Sahabat, Tidak dapat kita bantah bahwa manusia dengan fitrahnya senang akan kehidupan yang baik dan juga mengharapkan usia yang panjang. Bahkan kalau bisa, kita ingin hidup selama-lamanya. Namun tidak dapat kita sangkal bahwa menginginkan kehidupan yang kekal di dunia adalah kemustahilan, sebab dunia yang sifatnya temporer ini satu saat akan hancur bersama dengan semua yang ada di dalamnya. Manusia dibatasi dengan kematian sebagai akhir suatu perjalanan atau batas kehidupan yang pasti tejadi dan tidak bisa ditolaknya. Kematian adalah akhir dari perjalanan kehidupan dunia yang fana dan pintu gerbang kehidupan yang kekal, yaitu akhirat. Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita agar selalu menyadari tentang kesementaraan kehidupan dunia ini. Dunia hanyalah tempat mengumpulkan bekal, agar kelak kita diterima Allah sebagai tamu yang baik dan ditempatkan pada tempat yang baik pula. Umur dunia sangat pendek, terlebih umur kita. Jangankan dibandingkan dengan lamanya waktu di akhirat, dibandingkan dengan waktu di dalam kubur saja, tentu tidak ada sekejapnya. Di sisi lain, kesementaraan hidup di dunia juga digambarkan oleh rasulullah saw. Dalam sabdanya : “Dunia (hanyalah berumur) tujuh harinya hari-hari akhirat” (HR. Ad-Dailami).

Jika umur dunia semenjak diciptakan hingga dihancurkan (kiamat) kelak hanya sebanding dengan tujuh harinya hari-hari akhirat, maka akan tergambarkan oleh kita bahwa umur kita tidak ada satu detikpun dari hari-hari akhirat. Jikalau kita mau menggunakan akal sehat dan berpikir sejenak tentang hakekat hidup di dunia ini, niscaya selain waktunya sangat sementara dan hanya satu kali, juga akan kita sadari bahwa kehidupan kita yang sangat sementara dan satu kali itu menjadi faktor penentu bahagia–sengsaranya kita dalam menjalani kehidupan yang sesungguhnya di akhirat kelak. Akhirat adalah kehidupan pasca dunia yang teramat panjang, dan panjang tak terkirakan. Ketahuilah, Kematian bukanlah perjalanan akhir bagi kehidupan sebenarnya, tetapi hanya merupakan tempat singgah (transit). Kematian itu sebenarnya hanya merupakan perpindahan dari satu norma ke norma yang lain. Kematian adalah suatu tanda bahwa kehidupan masa uji coba manusia telah selesai. Ketika hidup di dunia manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menjadi cobaan dan ujian baginya. Namun ketika kematian datang, selesailah kesempatan untuk memilih. Pada fase baru ini manusia dipaksa untuk meyakinkan dirinya bahwa ia mati. Pada saat inilah ia dapat melihat malaikat maut dan alam Allah yang sebelumnya terhijab (tertutup). Disebutkan dalam firman Allah : “Sesungguhnya kamu berada dalam kehidupan lalai dari (hal) ini, maka kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari yang amat tajam”. (Qs. Qaaf [50] : 22) . Ketika berada di alam substansi (dzar) dulu, kita pernah mengalami kematian. Setelah itu kita ke dunia menjadi makhluk hidup, dan tidak lama kemudian kita akan mengalami kematian lagi. Selanjutnya kita akan dibangkitkan, sebagaimana disebutkan dalam Al-qur’an : “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (Qs. Al-Baqarah [2] : 28)

Ketahuilah, Pasca di dunia masih ada alam kubur, Pasca alam kubur masih ada kiamat dan hari kebangkitan. Pasca kebangkitan masih ada alam padang mahsyar (mauqif) dan penimbangan amal (yaumul hisab). Pasca yaumul hisab masih ada kehidupan yang tidak terkirakan lamanya dan tidak mengenal batas akhir, yakni syurga atau neraka. Pada saat itu sejarah kemanusiaan sudah usai dan perjalanan telah berakhir dengan pasti. Yang terbentang dihadapan manusia saat itu adalah era kehidupan syurga atau neraka.

Selasa, 04 November 2008

Doa

Ya Allah ! Berikanlah Kepadaku keutamaan (mati syahid) sebagaimana yang telah Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang Sholih...!

Selasa, 28 Oktober 2008

Bersegera dan Jangan Menunda

Ibnu 'Atha berkata, "Sesungguhnya pada setiap waktu yang datang, maka bagi Allah atas dirimu kewajiban yang baru. Bagaimana kamu akan mengerjakan kewajiban yang lain, padahal ada hak Allah di dalamnya yang belum kamu laksanakan!".

Hari itu adalah hari yang teramat bahagia bagi Handzalah bin Abu Amir. Betapa tidak, ia baru saja melangsungkan pernikahan dengan seorang wanita yang dicintainya. Saat sedang melaksanakan "kewajibannya" dengan isteri, terdengar olehnya seruan agar kaum Muslimin bersiap sedia untuk menghadapi kaum kafir Quraisy di Bukit Uhud.

Mendengar seruan itu, Handzalah melompat dari medan peraduannya bersama isteri dan segera bergabung dengan tentera Islam lainnya. Dalam pertempuran di Bukit Uhud tersebut, Hanzhalah bertarung dengan sangat berani. Ia bertemu dengan Abu Shufyan bin Harb. Ketika itu, Hanzhalah dalam posisi di atas dan hendak membunuhnya. Tapi mendadak diketahui oleh Syaddad bin Aus dan ia lebih dahulu membunuhnya. Handzalah pun syahid di jalan Allah.

Segera setelah peperangan tamat, Rasulullah SAW menemukan jenazah Handzalah. Beliau bersabda, "Sesunguhnya sahabat kalian (Handzalah) dimandikan oleh malaikat, maka tanyakanlah bagaimana kabar keluarganya". Para sahabat kemudian menemui istri Handzalah. Istrinya berkata, "Ketika mendengar panggilan untuk berperang, suamiku langsung menyambutnya, padahal ia dalam keadaan junub". Mendengar itu, Rasulullah SAW pun berkomentar, "Itulah yang menyebabkan para malaikat memandikan jenazahnya".

Bersegera dan jangan menunda

Entahlah, apakah kita sanggup atau tidak meneladani apa yang dilakukan Handzalah? Terlepas dari sanggup atau tidak, ada satu karakter yang telah ditunjukkan Handzalah, iaitu tidak menunda-nunda. Handzalah tidaklah sendirian. Banyak sahabat dan orang saleh yang sangat haus untuk berbuat kebaikan. Mereka tidak rela bila sedetikpun waktunya berlalu sia-sia. Mereka akan bersegera melakukan sebuah amal, bila amal tersebut telah tiba waktunya. Termasuk meninggalkan amal utama menuju amal yang lebih utama.

Dikisahkan Hasan Al-Banna, misalnya. Suatu ketika salah seorang anaknya sakit keras. Dia dan istrinya benar-benar mengkhawatirkan keadaan sang anak yang makin memburuk. Pada saat yang sama, datanglah panggilan untuk melayani (berkhidmat) pada umat. Di antara dua pilihan tersebut, Al-Banna memilih yang panggilan kedua. Ia pun meninggalkan anaknya yang tergolek lemah di tempat tidur. Saat itu istrinya berkata, "Sanggupkah engkau meninggalkan anakmu yang sedang sakit keras?" Al-Banna menjawab, "Apakah dia akan sembuh dengan adanya aku. Padahal penyakit umat di luar sana jauh lebih penting untuk aku tangani!".

Apa yang menyebabkan Handzalah, Hasan Al-Banna, dan orang-orang saleh lainnya begitu bersemangat dalam kebaikan? Sebabnya, mereka berhasil mengatasi rasa takut. Ketakutan adalah salah satu penyebab orang menunda pekerjaan. Sebenarnya, ada tiga pilihan saat kita dihadapkan pada rasa takut ini, iaitu: menghindarinya, mengharapkannya cepat berlalu, dan melawan rasa takut tersebut dengan segera melakukannya. Orang akan selalu menunda-nunda bila pilihannya jatuh pada nomor satu dan dua. Ia akan mencari seribu satu alasan untuk menghindar dari tugas yang semestinya harus ia lakukan. Pilihan ketiga adalah penyelesaian terbaik dan itulah yang dilakukan Handzalah dan Al-Banna.

Selain itu, mereka pun miliki energi luar biasa untuk berbuat. Energi tersebut lahir dari sebuah impian besar, iaitu keinginan berjumpa dengan Allah SWT. Impian, cita-cita, atau keinginan yang sangat besar adalah penangkal paling efektif untuk menghancurkan rasa takut dan penundaan. Tampaknya, mereka sangat terinspirasi janji dari Allah SWT.

“Bersegeralah kalian menuju ampunan Tuhan kalian dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS Ali Imran [3]: 133).

Yang ketiga, mereka tidak dilalaikan dengan angan-angan kosong. Angan-angan kosong di sini adalah harapan akan hadirnya hari esok. Tampaknya mereka sedar bahwa kesempatan untuk syahid sulit untuk berulang kembali. Walaupun kesempatan itu datang, ia tidak tahu apakah masih hidup atau sudah mati; sedang sihat atau sakit. Benar bila Islam melarang menunda tugas saat ini ke "sebentar lagi", juga amal ini ke "esok". Sebab, kita tidak tahu apa yang ada di balik "sebentar", "esok", atau "nanti" itu.

Ada hikmah menarik dari Imam Ali RA. Ia melukiskan bahwa "saat" itu hanya ada tiga, iaitu (yang) berlalu dan tak dapat diharapkan lagi, maka jadikanlah ia sebagai pelajaran; (yang) kini pasti adanya, jadikanlah ia peluang; dan yang akan datang, tapi ingatlah, boleh jadi ia akan menjadi milik orang lain. Pegang yang pasti, jangan diperdaya oleh esok, dan jangan pula menghadirkan keresahan esok ke hari ini. Kerana, yang demikian itu hanya akan menambah beban diri. "Tahukah Anda bagaimana waktu mencuri usia manusia?" demikian seorang bijak bertanya dengan nada yang retorik. Ia menjawab, "Waktu mencurinya melalui hari esok yang melalaikannya tentang hari ini (dengan menunda), sampai usianya habis".

Bersegera dan tidak menunda adalah cerminan pribadi seorang Muslim. Tepatnya, cerminan dari orang yang sedar akan hakikat waktu. Waktu itu cepat sekali berlalunya. Sekali berlalu, ia tidak akan pernah kembali dan tidak akan pernah tergantikan. Karena itu, waktu menjadi harta termahal yang dimiliki manusia, sehingga menggunakannya dengan cara yang tepat menjadi sebuah kewajiban.

Ada tiga alasan kenapa Allah dan Rasul-Nya mewajibkan manusia untuk tidak menunda sebuah pekerjaan. Pertama, tidak ada jaminan kita bisa hidup hingga esok hari. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakannya besok (QS Luqman [31]: 34). Siapakah yang dapat menjamin kita bisa hidup hingga besok, lusa, bulan depan, atau tahun depan; padahal kematian begitu dekat dengan tiap manusia. Seorang penyair berkata, "Selesaikan pekerjaanmu hari ini, jangan menunggu besok. Siapa yang akan menanggung perkaramu di esok hari?"

Kedua, dalam setiap waktu ada hak dan kewajiban yang harus ditunaikan. Tidak ada waktu yang kosong dari aktiviti. Pengabaian terhadap hak dan kewajiban tersebut akan membawa kemudharatan berlipat-lipat bagi yang melakukannya. Seorang ahli hikmah berkata bahwa kewajiban pada tiap-tiap waktu memungkinkan untuk diganti, namun hak-hak dari tiap waktu tersebut tidak mungkin diganti. Ibnu 'Atha mengungkapkan, "Sesungguhnya pada setiap waktu yang datang, maka bagi Allah atas dirimu kewajiban yang baru. Bagaimana kamu akan mengerjakan kewajiban yang lain, padahal ada hak Allah di dalamnya yang belum kamu laksanakan!"

Ketiga, baik bersegera ataupun menunda yang terus dilakukan akan menjadikan jiwa terbiasa melakukannya. Tidak akan pernah menjadi penunda "kelas berat", kecuali diawali dengan menunda hal-hal kecil dalam kiraan yang tinggi. Kebiasaan menunda akan menjadi tabiat kedua yang akan sulit ditinggalkan. Kerana itu, Allah SWT melarang hamba-Nya melalaikan waktu sedikitpun, termasuk menunda pekerjaan.

Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya orang Mukmin itu apabila berbuat dosa akan ada di dalam hatinya bintik hitam, seandainya ia bertaubat, maka akan hilang bintik hitamnya; dan apabila ia menambah nescaya akan bertambah (bintik hitam tersebut), sehingga akan menutup hatinya” (QS Al-Muthafiffin [83]: 14). Wallahu a'lam bish-shawab.


Posting By www.dakwah.info

Senin, 27 Oktober 2008

Muqoddimah

Assalamu'alaikum wr. wb.

Segala puji hanya milik ALLAH SWT. sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.