RSS Feed

Jumat, 22 Mei 2009

Jika Kau Sayang Padaku


Jika kau sayang padaku
teruslah sayang padaku
tapi aku tak bisa memaksamu
karena itu cintamu
aku hanya bisa menerima
dan hidup di dalamnya
penuh bahagia

Jika kau benci padaku
bertanyalah pada dirimu
apamu yang terganggu
dengan adanya aku
dari situ kita berdua belajar
siapa kau
dan siapa aku

Jika kau sama denganku
jangan sesali kepergianku
karena kehilangan yg terbesar bukanlah
kematianku
tetapi apa yang mati di antara kita
ketika aku masih ada

Dan jika cinta memang ada di antara kita
aku tak akan pergi jauh darimu
hidup terus dihatimu
menghangatkanmu dalam kedinginan
menenangkanmu dalam kemarahan
membawa senyum dalam saat-saat sepi,
aku tidak tidur
aku tidak mati
akulah kekuatan bagimu
selalu ada




Jumat, 27 Februari 2009

Di Balik Jeruji besi

"Nal, emak pergi kepasar dulu ya, nanti kalau airnya sudah mendidih tolong matiin kompornya. sekalian juga masukin air panasnya ketermos," itulah ibuku yang memulai hari-harinya pergi kepasar untuk membeli bahan-bahan makanan yang akan Ibu jual di warung makan depan rumah. memang bukan rumah makan mewah, namun dengan rumah makan tersebut dapat menjadikan aku seorang guru di salah satu sekolah dimana aku tinggal.

"Pak, belum berangkat kerja?" ujar aku kepada Bapak yang sedang asyik menonton televis sambil ditemani secangkir teh hangat dan 3 potong pisang goreng. belum nal, lagi seru nih beritanya. kamu sudah sarapan nal? tadi emak kamu sudah bikin nasi goreng sebelum berangkat ke pasar.

Senin, 17 November 2008

Setitis Airmata Dan Seulas Senyuman


Takkan kutukar dukacita hatiku demi kebahagiaan khalayak. Dan, takkan kutumpahkan air mata kesedihan yang mengalir dari tiap bahagian diriku berubah menjadi gelak tawa. Kuingin diriku tetaplah setitis air mata dan seulas senyuman.

Setitis airmata yang menyucikan hatiku dan memberiku pemahaman rahsia kehidupan dan hal ehwal yang tersembunyi. Seulas senyuman menarikku dekat kepada putera kesayanganku dan menjelma sebuah lambang pemujaan kepada tuhan.

Setitis airmata meyatukanku dengan mereka yang patah hati; Seulas senyum menjadi sebuah tanda kebahagiaanku dalam kewujudan.

Aku merasa lebih baik jika aku mati dalam hasrat dan kerinduan berbanding jika aku hidup menjemukan dan putus asa.

Aku bersedia kelaparan demi cinta dan keindahan yang ada di dasar jiwaku setelah kusaksikan mereka yang dimanjakan amat menyusahkan orang. Telah kudengar keluhan mereka dalam hasrat kerinduan dan itu lebih manis daripada melodi yang termanis.

Ketika malam tiba bunga menguncupkan kelopak dan tidur, memeluk kerinduannya. tatkala pagi menghampiri, ia membuka bibirnya demi menyambut ciuman matahari.

Kehidupan sekuntum bunga sama dengan kerinduan dan pengabulan. Setitis airmata dan seulas senyuman.

Air laut menjadi wap dan naik menjelma menjadi segumpal mega. Awan terapung di atas pergunungan dan lembah ngarai hingga berjumpa angin sepoi bahasa, jatuh bercucuran ke padang-padang lalu bergabung bersama aliran sungai dan kembali ke laut, rumahnya.

Kehidupan awan-gemawan itu adalah sesuatu perpisahan dan pertemuan. Bagai setitis airmata seulas senyuman. Dan, kemudian jiwa jadi terpisahkan dari jiwa yang lebih besar, bergerak di dunia zat melintas bagai segumpal mega diatas pergunungan dukacita dan dataran kebahagiaan.

Menuju samudera cinta dan keindahan - kepada Tuhan.

Khalil Gibran

Kamis, 13 November 2008

Adikku yang tertidur

Adikku yang tertidur
dalam hangatnya selimut
ia masih terdiam dalam kehangatan itu

namun tak terasa air mata ini menetes
disela-sela janggutku..

Ya Allah, cukuplah aku yang merasa
tak perlu ia..

tubuhnya yang mungil,
harus menahan pahitnya kehidupan
manjanya yang menghilangkan kedukaan

kau yang memberi bara semangat
kala aku tenggelam dalam lara,

Adikku..
tersenyumlah,esok kita hadapi bersama

13 Nopember 2008

Daun-daun Pagi Menyambut mentari

Daun-daun Pagi Menyambut mentari,
bersama kupu-kupu itu aku menikmati rasanya
menyentuh kulit

semilir angin membawa kabar baik
membuat senyum diwajah murung.
apakah yang diutarakan itu bisa dirasa
tapi kenapa diam?

aku akan menunggu,
sampai kapanpun....
karena hatiku menanti jawaban itu..!

13 Nopember 2008

Syair Nasihat Kepada Perempuan

November 6, 2008

Demikian wahai lagi perempuan,
Taatlah kepada suamimu tuan,
Jangan menderhaka jangan melawan,
Jadukan dirimu bersifat setiawan.

Jangan sekali berniat khianat,
Apalagi kurang amanat,
Pekerjaan wajin bukannya sunat,
Jika dilawan mendapat laknat.

Pertama di dunia mendapat malu,
Di dalam akhirat tubuh terpalu,
Masyhur khabar ke hilir ke hulu,
Sebab perangai tidak bermalu.

Sangatlah murka Rabbulizzati,
Perintah suami tidak dituruti,
Hendaklah taat bersungguh hati,
Kepada suamimu berbuat bakti.

Jangan takburkan rupamu elok,
Melebihi kebanyakan makhluk,
Menyangka dirimu tiada tertolok,
Jadilah suamimu diperolok-olok.

Jangan sekali takburkan bangsa,
Martabat tinggi di negeri dan desa,
Memandang suamimu seperti rusa,
Sombonglah tuan tutur bahasa.

Tiada menurut apa perintahnya,
Perkataan kasar selalu keluarnya,
Muka dimasamkan di hadapannya,
Jadilah suami pecah hatinya.

Jika diperbuat demikian itu,
Nyatalah kamu syaitan dan hantu,
Hargamu tiada serial batu,
Tiadalah harus dibuat menantu.

Dukalah tuan sehari-hari,
Suami pun benci tiada terperi,
Jika suamimu bijak bestari,
Duduklah dia mendiamkan diri.

Tetapi hatinya rosaklah sudah,
Kerana perbuatanmu yang haram jadah,
Jadilah suamimu berhati gundah,
Tiadalah kamu mendapat faedah.

Hanyalah dari balasan ngeri,
Dimurkai Tuhan waidul kahri,
Mendapat sengsara di dua negeri,
Celaka bertambah sehari-hari.

Sering kali aku berkata

Sering kali aku berkata,

ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi,

mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan
milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika semua itu diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah …
semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah …
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:

aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai
keinginanku,

Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja”

(WS Rendra).